Tampilkan postingan dengan label Tentang Ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Ayah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

Kepergian Ayahku


Aku tak mampu mengantar kepergianmu. Langit mendung turut berduka. Orang-orang riuh rendah becerita. Tentang segala amal kebaikanmu. Aku datang kepadamu, ayah.

Semilir di bawah kamboja dan nisanmu. Aku menangis dan berdoa mengenang segala salah dan dosaku kepadamu. Kepergianmu seketika mendewasakan aku. Mengajarkan aku betapa penting arti hidup untuk menjadi berguna bagi sesama.

Kepergianmu mengajarku bagaimana harus mencintai dan menyayangi, bagaimana harus tulus berkorban dan bersabar. Hingga saat terakhir hayatmu. Engkau terus berdoa demi kebahagiaan anak-anakmu. Hari ini aku menemuimu, ayah. Lewat sebait puisi untuk mengenangmu.

Bila datang saatnya nanti. Kan kuceritakan segala kebesaran dan keagunganmu. Bersama embun fajar kemarau ku sertakan doa. Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Sabtu, 23 April 2011

Kebaikan Ayah Kepada Anak Perempuan

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya, akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa? Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu? Jika ternyata Papa lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian? Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu. Kemudian Mama bilang: “Jangan dulu Pap, jangan dilepas dulu roda bantunya.”, Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.


Jumat, 01 April 2011

Kerinduanku Pada Seorang Ayah




Ayah...
Sangat sulit untuk melakukan sesuatu ketika aku merindukanmu. Aku hanya bisa terdiam dan menangis. Apa yang harus kulakukan untuk bertemu denganmu, Ayah?

Apakah engkau disana bisa merasakan betapa rindunya aku? Apakah engkau bisa mendengar suara tangisanku? Sekarang aku sudah besar. Dan ingin duduk dibangku kuliah. Apakah engkau tidak ingin bertemu denganku walaupun hanya didalam mimpi?

Ayah...
Aku iri melihat teman-temanku masih memiliki orang tua yang lengkap. Mengapa engkau pergi terlalu cepat sekali? Banyak sekali rencana-rencana kita yang belum terlaksana. Apakah ayah masih ingat?

Aku ingin pada saat kelulusan SMA nanti, ayah ada ketika aku tersenyum senang bahwa aku dinyatakan 'LULUS!'. Dan ayah bisa merasakan keharuan bangga. Aku ingin sekali melihat ayah bangga.

Ayah...
Aku sekarang mempunyai seseorang yang aku sayang. Seandainya saja ayah masih ada, akan ku kenalkan dia kepadamu. Dia seseorang yang menjadikan hidupku kembali menjadi cerah setelah kepergianmu. Dia bisa menguatkanku pada saat aku teringat padamu. Dia selalu menghiburku ketika aku bersedih.

Ayah, walaupun aku hanya menulis sebuah pesan singkat ini, aku hanya berharap semoga engkau mendengar disana.

Ayah, aku sangat merindukanmu...